Sang Pengembara
Cerpen: AntoniCINTA
membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku
tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku
dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.
Aku
seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan.
Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur
kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan
pisang raja, melati dironce-ronce, apalagi gending Kodok Ngorek, tidak
ada sama sekali. Semua berlangsung tawar, tidak semerbak, abu-abu,
persis mendung menggantung.
"Ini pernikahan resmi kan, Ma?" tanyaku kepada ibu mertuaku, setelah semua tamu pulang.
"Resmi…!" Alis matanya agak menaik. "Ada naib dan petugas KUA. Sah
menurut hukum dan agama. Emangnya kenapa?"
"Ya
alhamdulillah, merasa bahagia saja…," jawabku. Aku memang seorang
muallaf sejak Agustus 2003. Jadi maklum belum begitu paham.
Kami
pun kembali terdiam. Ibu mertuaku asyik memisah-misahkan jepitan rambut
yang tadi dipakai istriku. Ada yang besar ada yang kecil, dipisahkan
satu dengan lainnya. Lalu disimpan di kotak kecil-kecil. Sambil menyulut
rokok, aku sandarkan punggung ke tiang kayu penyangga rumah limasan
ini. Tidak ada penutup atap. Gentingnya terlihat dari bawah.
Lonjoran-lonjoran bambu tampak jelas.
Aku tercenung sejenak.
Teringat mendiang ibuku yang meninggal November tahun lalu. Seandainya
masih hidup, tentu ia bahagia sekali menyaksikan pernikahanku. Wasiat
terakhir untukku hanya satu: ia ingin melihatku bahagia.
Rambutku
terasa sedikit naik. Angin bukit batu yang kering, bersirobok masuk
dari pintu depan. "Aku mengalami kebahagiaan hanya pada saat berdoa
saja, Bu…," gumamku dalam batin.
Pernikahan, terus terang, memang
membuatku bahagia. Meski perhelatannya berlangsung sangat sederhana.
Pernikahan memaksaku berhenti mengembara. Puluhan tahun aku melintasi
jalanan sepi dan gelap, berteman rindu dan harapan. Kakiku melangkah
tanpa kepastian. Akhirnya aku dihentikan oleh kekuatan yang tidak pernah
aku pahami. Jodoh membuatku berhenti melangkah.
Sebagai
pengembara, sungguh tak pernah aku mempelajari apa itu hakikat
perkawinan, rumah tangga bahagia, keluarga sakinah dan sebangsanya.
Jadilah aku manusia paling bodoh. Mengalami ketergagapan budaya dalam
berumah tangga. Sebuah ritual tradisional yang dijalankan turun temurun
oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Dan aku tidak mengenalinya sama
sekali.
Dulu, aku merasa takut menghadapi pernikahan. Dalam
bayanganku, semua keperluan rumah tangga harus dipersiapkan terlebih
dahulu, seperti rumah, penghasilan tetap dan kendaraan. Sejak usia 18
tahun, sudah tiga kali aku membangun rumah, hanya untuk memahami
elemen-elemen pernikahan itu. Rumah pertama, mungil tapi permanen,
terpaksa aku jual karena pindah ke Surabaya. Dan calon istriku pergi
jadi pramugari. Terbang, selamanya.
Rumah kedua, sebetulnya aku
tidak begitu berminat membangunnya untuk tujuan berumah tangga, meski
pacarku cintanya tak terbatas untukku. Kubangun di pinggir jalan besar,
di sebuah desa yang tenang. Aku tinggal di situ setahun lamanya, sambil
menyelesaikan buku keduaku tentang meditasi. Aku jual lagi. Pacarku ke
Singapura bekerja di sana.
Setelah itu, aku tidak membangun
rumah lagi. Tapi membelinya. Di daerah sentra pariwisata di Jogja.
Sebuah rumah joglo tua dan angker. Kubuat galeri
kecil, lumayan
juga. Lukisan-lukisan karyaku sempat dibeli turis Belanda dan Belgia.
Akhirnya, karena jenuh dan ada peristiwa bom Bali, aku memutuskan
mengembara lagi. Rumah itu kujual secara tergesa-gesa.
Kini,
aku punya istri yang setia tapi tidak punya rumah. Dulu aku punya rumah
tapi hidup sendiri tanpa istri. He..he…he, ironis kan? Sementara ini
istriku tinggal bersama mamanya. Ia memang anak yatim yang didera
penderitaan hidup berkepanjangan.
Aku letakkan puntung rokok
terakhirku ke asbak. Ibu mertuaku ternyata sudah sejak tadi beranjak
dari duduknya. Lamunanku tentang peristiwa pernikahan ini, membuatku
tidak memahami lingkungan sekitarku. Aku pun beranjak, mencari istriku
di bilik sebelah, bersekat tripleks.
Istriku cantik sekali.
Tercantik di dunia. Ia tampak sedang sibuk memberesi pakaian
pengantinnya, bedaknya dan segala tetek bengek perlengkapan gaun
pengantin. Bau parfum Drakkar Noir dari Calvin Klein masih tertinggal,
di ujung hidungku. Tadi, seusai resepsi, kucium dia di tengkuknya. Jadi
aroma parfumnya ikut juga. Memang, itu parfum cowok. Tapi mau bagaimana
lagi? Adanya cuma itu. Aku membelinya di drugstore Bandara Juanda,
Surabaya dua tahun lalu, sepulang dari Makassar.
Aku cium lagi
tengkuknya. Ia tersenyum manja. Kebahagiaan terpancar di wajahnya. "Mau
ngopi lagi, Mas?" tanyanya. Aku menggeleng, kudekap dia dari belakang,
kemudian kita saling menempelkan pipi dan mematut-matut di depan cermin.
Sepasang pengantin baru yang menikah diam-diam. Aku lihat matanya
berbinar-binar. Ia bahagia.
Makna kebahagiaan bagiku hanyalah
setetes warna yang lebih bersinar di antara warna-warna lain yang kusam.
Setiap orang yang mampu meraih segala sesuatu yang diidam-idamkan,
tentu merasa bahagia. Begitu pula aku. Seringkali aku merasa lelah
mengembara dan ingin hidup layak seperti pada umumnya orang dengan
menikah, berkeluarga, dan beranak pinak seperti yang disampaikan Allah
kepada Nabi Ibrahim.
Dua minggu menjelang pernikahan, secara
khusus memang aku memohon kepada kekuatan Yang Maha Dahsyat. Kekuatan
paling purba, sebelum bumi dan tata surya ini tercipta. Di bawah pohon
tua berumur ratusan tahun, di atas bukit kecil yang lembab, tepat tengah
malam dan purnama penuh di angkasa, aku sampaikan permohonan keramatku
itu. "Aku tidak butuh kekayaan, aku butuh istri dan sebuah keluarga,"
begitu doaku. Kun fayakun, terjadilah segala sesuatunya secepat kilat.
Pernikahanku
juga berlangsung kilat. Memang, ketemunya sudah lama, dua tahun silam
di acara pernikahan seorang artis dangdut top ibu kota. Belum ada
getar-getar cinta kala itu. Pertemuan kedua terjadi di Jogja, di pinggir
lapangan golf Hyatt Regency, Bogeys Teras. Biasa saja, semuanya
berlangsung biasa. Cuma di tengah dentuman musik classic rock yang
mengalun, dia mengatakan kepadaku setengah berbisik: "Kalau mau sama
aku, harus serius…," katanya.
Langsung saja aku melamarnya malam
itu juga. Ia pun mencium punggung tangan kananku. Resmilah kita
mengikat janji. Sepuluh hari setelah malam "bertabur bintang" itu,
terjadilah pernikahanku ini. Tanpa surat undangan dan wedding taart.
Perjalanan pernikahanku memang terkesan begitu indah. Tak ada cacat,
semua
berjalan baik dan tenang. Ombaknya kecil, landai, dan bisa pasang layar
sesuka hati. Langit biru tampak bersahabat di ujung cakrawala dan
matahari bersinar ramah.
Kunikmati pernikahanku. Sedikit unik.
Biasanya jok sebelah kemudiku selalu kosong. Paling, terisi dokumen
pribadi dan beberapa bungkus rokok. Kini ada wanita cantik dengan rambut
tergerai, tawa yang renyah dan sangat suka memakai aksen…gitu loh.
"Liya gitu loh….," katanya menegaskan bahwa Liya beda dengan Lia.
Aku
jadi mudah tertawa dibuatnya. Segala kata jadi berbunga-bunga, dan kita
selalu mengurung diri di kamar berdua. Bercanda, berantem
kecil-kecilan, saling merajuk dan tentu saja, bercinta.
"Aku pengin punya anak 9," kataku.
"Dua saja….Capek," jawabnya sambil menepuki perutnya.
Lalu
kita berpelukan lagi. Seolah tidak ada cakrawala untuk luapan
kegembiraan dan kebahagiaanku. Tidak ada yang membatasi. Tidak ada garis
lurus yang memisahkan. Tidak seperti langit dan bumi yang dibelah di
cakrawala. Segalanya serba los, bebas dan tak terbatas. Luar biasa. Aku
selalu merindukan setiap menitnya.
Tawa ceria dan segala canda
itu ternyata tidak berumur lama. Begitu cepat perginya. Sama cepatnya
dengan proses pernikahanku. Kebahagiaan, agaknya, tidak pernah berpihak
kepadaku. Segala sesuatunya berbalik 180 derajat. Sirna seketika.
Berubah serba hitam. Galau. Gelap. Bergemuruh. Menghentak-hentak dan
menyambar-nyambar. Setiap kata jadi bersayap-sayap. Salah paham muncul
silih berganti. Kecemburuan, kecurigaan, dan pembicaraan-pembicaraan
yang penuh teka-teki pun berebut mengganggu.
Salah ucap sedikit,
menjelma jadi bara api. Berkilat-kilat. Aku sampai tidak sempat berdoa
karena pikiranku tersita sepenuhnya untuk istriku. Kelakuannya
berubah-ubah, sulit dipahami.
"Aku ingin sendiri," katanya pelan, tapi kurasakan seperti halilintar.
Menggelegar.
"Kita ini menikah, bukan pacaran. Ini Suro…harus serba hati-hati," kataku
mengingatkan.
"Hasyaahhhh….." Mukanya jadi cemberut dan bibirnya jadi tambah lancip.
Rambutnya yang dikucir bergoyang-goyang. Meski marah, kuakui, dia tetap saja menggemaskan.
Sambil
menjentikkan abu rokok ke asbak, ia pun berargumentasi tentang
pernak-pernik kegalauan perasaannya. Dari soal sepele sampai besar. "Aku
tuh sukanya mobil-mobilan dan korek api, bukan bunga…Sabunku juga bukan
yang itu, shamponya yang ini….." Mimik mukanya agak berkerut-kerut,
ketika aku bawakan setangkai red rose yang dikemas plastik cantik.
Aku
berusaha menyelami segala sesuatunya dengan hati-hati. Termasuk soal
rumah, yang berkali-kali dilihat masih kurang cocok di hati. Kadang
jengkel juga. Namun pernikahan tidak boleh terganggu dengan
perasaan-perasaan yang tidak berguna seperti itu. Pernah aku berpikir
kenapa harus begitu tergesa-gesa menikah?
"Aku sudah lelah dan jenuh dengan kehidupanku selama ini. Jadi aku
memutuskan untuk cepat menikah," katanya ketika itu.
Argumentasinya
itu membuatku merasa menemukan wanita yang sudah matang. Masa lalu yang
carut marut memang harus diakhiri ketika pernikahan terjadi. Ketika
baju pengantin dikenakan dan akad nikah ditandatangani, maka masa lalu
berakhirlah di situ. Pernikahan adalah sebuah lembaran baru yang serba
bersih, sehingga kita bisa menuliskan apa pun di sana sesuka hati, tanpa
harus dihantui lembaran-lembaran hitam masa lalu. Kisahnya harus dibuat
sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Ditata seperti mengatur
sebuah taman bunga. Agar segalanya serba semerbak dan mewangi. Sampai
akhirnya lembaran pamungkasnya ditutup sendiri oleh Sang Khaliq. Pemilik
hak atas seluruh hukum kehidupan. Ah, lumayan juga teoriku ini.
"Hanya
kematian yang bisa memisahkan sepasang pengantin," kataku kepadanya. Ia
tercenung beberapa jurus. Matanya yang indah terdiam beberapa saat.
Lalu bola matanya berubah jadi abu-abu. Ia pun meledak-ledak lagi. Ada
bau parfum yang berbeda dari tubuhnya, ketika ia berdiri sambil
bersungut-sungut. Aku terhenyak. Berangkat kantor tadi pagi, memang ia
sudah terlihat kusut. Tapi aku tidak memikirkannya terlalu dalam.
Sewaktu turun mobil, ia hampir lupa mencium tanganku.
"Aku suamimu bukan?" tanyaku pelan, sambil kusodorkan tangan kananku.
Ia pun menciumnya. "Nanti dijemput jam berapa?" tanyaku lagi.
"Jam empat sore. Mundur satu jam," jawabnya, sambil bergegas turun.
Prahara
itu pun dimulai. Bau parfum yang berbeda sepulang kantor, menjadi
puncak dari seluruh masalah yang bertumpuk. Padahal sepulang kantor tadi
kami sempat melihat sekali lagi rumah yang akan kami tempati.
"Besok
aku mau naik bis kota saja. Nggak usah diantar jemput lagi," ujarnya
sambil membanting tubuhnya ke kasur. Ia memunggungiku. Tampak jengkel.
Aku
berharap keadaan itu hanya sementara saja. Seperti
permasalahan-permasalahan kecil yang terjadi di hari-hari kemarin.
Ternyata tidak. Besok-besoknya lagi, tetap sama. Terus-menerus begitu.
Sehari dua hari. Seminggu dua minggu. Seluruh saluran komunikasi
ditutup. Ia pun ganti nomor hand phone. Aku takut membayangkan kenyataan
yang bisa membuatku bersedih.
"Ini hanya sementara…," katanya
ketika aku nekat menemuinya, di siang yang terik. "Sementara…," itulah
kata-kata yang aku jadikan pegangan. Meski berat dan dipenuhi ribuan
teka-teki, aku berusaha meyakini janjinya itu.
Kehidupanku pun
limbung. Aku kembali melangkah tanpa kepastian, tak ada teman selain
rindu dan harapan. Keinginanku untuk menjalani kehidupan masa lalu
kembali menggelegak lagi. Mengembara. Ya, mengembara. Akulah, pengembara
itu!
Aku harus kembali berteman dengan alam, dengan orang-orang yang hidup
sederhana
di ujung-ujung desa, di pegunungan dan di pinggir-pinggir pantai.
Bertemu orang-orang yang tulus mencintaiku, menerimaku dengan tangan
terbuka, tanpa rasa curiga, saling pengertian dan tidak mengkhianati.
Aku merasa bahagia. Apalagi kalau mereka berduyun-duyun di belakangku,
mengikutiku berdoa.
"Tapi ya Allah, apakah Engkau tidak
mengizinkan aku memiliki sebuah keluarga, keturunan, dan generasi
pewaris?" gumamku ketika aku datang lagi ke pohon besar di atas bukit
yang lembab itu.
Selang beberapa saat, tiba-tiba melodi Songete
mengalun dari hand phoneku. Debur ombak Laut Selatan hampir membuatku
tidak mendengarnya. Ada SMS masuk, dadaku berdebar.
"Jeleeeeeeeeeeeeeek…where are u? Aku kangen tho sama Jelek. Ke sini tak buatin kopi…..!" begitu bunyi SMS-nya. Dari istriku.
Ah, ternyata itu SMS yang pending sejak empat minggu lalu. ***